08/01/10

Tekanan Darah Tinggi, Penyakit akibat Gaya Hidup


Tekanan darah tinggi termasuk pola penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup, terutama gaya hidup yang berhubungan dengan emosi negatif, seperti: mara tak terkendali, cemas, dan takut yang berlebihan. Kemarahan sarat dengan energi, meskipun berlangsung hanya sebentar. Marah dapat dialami oleh semua orang, dan hal tersebut sangat manusiawi sepanjang dalam batas-batas kewajaran. Benci dan dendam sebagai kemarahan yang tidak terungkap, lebih menyerap energi dibandingkan dengan kemarahan yang dicetuskan.

Setiap kali ingat sesuatu yang dibenci, energi terkuras untuk ketegangan yang dihasilkan oleh luka lama tersebut, gerakan jantung lebih cepat dan tekanan darah lebih tinggi.

Tekanan darah yang tinggi berpotensi merusak pembuluh-pembuluh darah, dan tidak jarang mengantar seseorang pada kematian, sebagai bayaran atas gaya hidup modern. Pe­nyakit ini hampir tidak dikenal pada orang-orang yang hidup di pegunungan atau pedesaan. Hal ini dikarenakan jauhnya gaya hidup Barat, baik gaya hidup fisik, gaya hi­dup spiritual, maupun gaya hidup emosional.

Pernyataan bahwa tekanan darah tergantung pada gaya hidup bukanlah hal yang perlu diragukan lagi. Banyak studi, terutama yang dilakukan di Dunia Ketiga membuktikan terjadinya peningkatan pesat dari tekanan darah penduduk pedesaan yang migrasi ke kota-kota besar. Hal ini tentunya mudah dimengerti, karena perubahan gaya hidup dari tradisional beralih ke modern bukanlah suatu hal yang mudah bagi para urban. Mereka mengalami apa yang oleh Futurolog John Naisbitt disebut cultural shock. Tahap penyesuaian diri ini lebih banyak menimbulkan ketegangan jiwa yang menyebabkan tekanan darah naik.

Adanya saling pengaruh antara tekanan jiwa atau labilitas emosi dengan tekanan darah tinggi telah dibuktikan oleh Hering pada tahun 1927 melalui tikus-tikus putih yang menjadi obyek penelitiannya. Terhadap tikus-tikus tersebut diperdengarkan suara keras setiap malam yang menyebabkan tekanan darah melonjak. Penelitian ini membuktikan bahwa susunan saraf pusat dan susunan urat saraf otonom erat kaitannya dengan hipertensi. Diperkirakan bahwa hipotalamus mempunyai peranan penting dalam hal ini. Stimulasi hipotalamus menyebabkan terpengaruhnya sistem urat saraf otonom.

Selain ketegangan jiwa, banyak makan, merokok, minum kopi, dan kurang aktivitas atau olahraga dapat menyebabkan tekanan darah naik. Menurut Mark Payne, seorang ahli ke­sehatan dari Inggris, dalam satu hari tekanan darah bisa benvariasi, misalnya: pada pukul 04.00 menunjukkan peningkatan, dan pada pukul 16.00 menunjukkan angka yang rendah. Oleh karena itu, kasus kematian serangan jantung banyak terjadi pada dini hari. Penyakit tekanan darah tinggi terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Namun hal ini jarang terjadi di China, India, dan beberapa negara di Afrika.

Lazimnya, tekanan darah normal yang sesuai dengan standar WHO adalah 100-140 mmHg sistolik dan 60-90 mmHg diastolik. Tekanan darah di atas normal jika berada di atas angka antara 140-159 mmHg sistolik dan 90-94 mmHg diastolik. Sedangkan tekanan darah dikatakan tinggi apabila lebih besar dari tekanan danah normal seperti yang sudah dikemukakan.

Penderita tekanan darah tinggi rawan terhadap serangan jantung, stroke, obesitas, dan sebagainya. Namun, risiko stroke jauh lebih besar dibandingkan dengan penyakit Iainnya. Stroke dapat timbul akibat pecahnya arteri kecil di dalam otak. Akibat yang sering ditimbulkan adalah kelumpuhan pada sisi tubuh. Kelumpuhan ini dapat menetap se­mentara atau permanen berupa terganggunya kemampuan bicara, penglihatan, keseimbangan tubuh, dan perasaan. Serangan stroke bisa merupakan lanjutan dari tekanan darah tinggi, namun dapat pula sebagai tanda awal adanya serangan darah tinggi.

Hipertensi juga memiliki kaitan erat dengan target organ, seperti: otak, jantung, mata, dan ginjal. Ginjal merupakan target yang paling utama sehingga penderita sering harus cuci darah, yang dalam istilah kedokteran disebut dialisis. Pada proses dialisis, zat-zat metabolit yang sifatnya juga menyandang obesitas dan berusia paruh baya. Kepada mereka dianjurkan pula untuk berpantang makanan yang banyak mengandung kolesrerol, seperti: kuning telur, otak, dan hati. Dalam mengolah makanan dianjurkan untuk menggoreng dengan minyak tumbuhan yang rendah kolesterol, seperti: minyak zaitun, minyak jagung, dan minyak bunga matahari.

www.panduankesehatan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar